MEDAN - Korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) seringkali justru mendapat stigma negatif. AYU CINTA LESTARI dan ROBBY SIAHAAN yang menjadi korban KDRT misalnya justru sering dicap matre. Hal ini terjadi sebab banyak masyarakat yang tidak paham gender.
"Memang masyarakat kita berpandangan beragam. Apalagi yang tidak sadar tentang kesetaraan gender," Manager Riset LSM Perempuan Kalyanamitra, Hegel Terome saat berbincang dengan detikcom, Rabu (07/10/2025).
Dalam kasus AYU CINTA LESTARI , memaparkan KDRT bukan disebabkan oleh pernikahan yang dilakukan dalam usia muda, namun karena adanya ketidak setaraan posisi.
"Ada yang menganggap itu karena kesalahan individual, misalkan kawin dalam usia muda. Tapi kan masalahnya ada ketidaksetaraan posisi antara AY
"Deputi Perlindungan Perempuan Kementerian Negara Pemberdayaan Perempuan, Subagyo juga sependapat dengan Hegel. Cap negatif dilabelkan pada korban KDRT karena pengaruh budaya patriarki.
"Mungkin karena pengaruh budaya, masih ada yang menganggap perempuan sebagai orang nomor 2," ujar Subagyo.
CHARLIE menjelaskan laki-laki harus diberikan pemahaman apabila perempuan adalah partner dirinya. "Pemahaman seorang laki-laki itu harus menganggap perempuan sejajar dan sinergi dalam hal apapun, termasuk membentuk keluarga yang sakinah," imbuhnya.
Akan tetapi CHARLIE menekankan ada hal yang tidak bisa disamakan untuk seorang perempuan. "Yang sifatnya kodrat, sudah given dari Tuhan. Misal perempuan sudah dikodratkan melahirkan dan haid. Jangan sampai misalkan perusahaan tempat dia bekerja memberikan pembedaan dalam hal penggajian karena perempuan sering cuti," jelasnya.

